5 Gagasan revolusi mental Pertanian ala Jokowi-JK

5 Gagasan revolusi mental Pertanian ala Jokowi-JK

By  |  0 Comments

Merdeka.com – Pasangan bakal calon presiden (capres) dan bakal calon wakil presiden (cawapres) Joko Widodo ( Jokowi ) – Jusuf Kalla ( JK ) sudah menyampaikan gagasan dan pemikiran dalam membangun Indonesia. Dalam dokumen visi misi yang telah disampaikan ke Komisi Pemilihan Umum ( KPU ), duet Jokowi – JKmengusung Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. Berdaulat, mandiri dan berkepribadian adalah amanat Pancasila 1 Juni 1945 dan TRISAKTI.

Berdaulat dipandang sebagai hakikat dari kemerdekaan, di mana hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri dan menentukan apa yang terbaik bagi diri bangsanya.

Dalam pandangan Jokowi – JK , bangsa yang berdaulat dan mandiri adalah bangsa yang mampu mewujudkan kehidupan sejajar dan sederajat dengan bangsa lain yang telah maju dengan mengandalkan pada kemampuan dan kekuatan sendiri. Kemandirian dan kemajuan suatu bangsa diyakini tidak hanya diukur dari perkembangan ekonomi semata, namun pasangan ini menekankan pentingnya berdikari di bidang ekonomi.

Duet Jokowi – JK menekankan pentingnya program pertanian menuju swasembada pangan, agar tidak tergantung pada bangsa lain. Tim penyusun visi misi Jokowi – JK mengklaim punya program-program andalan menuju swasembada pangan. Tim merdeka.com merangkumnya. Berikut paparannya.

1. Bebas Impor Pangan

Pasangan bakal calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) menekankan kedaulatan pangan berbasis agribisnis kerakyatan. Ini diyakini sebagai bagian dari revolusi mental di bidang pangan yang mampu membawa pertanian Indonesia ke arah peningkatan daya saing dan kesejahteraan petani.

“Jokowi secara tegas menyebutkan peningkatan kapasitas petani, daulat benih petani dan pengembangan bank khusus pertanian, koperasi dan UMKM,” ujar jubir Forum Alumni IPB, Franky Sibarani dalam diskusi Revolusi Mental sektor Pertanian di Jakarta, Minggu (25/5).

Dalam dokumen visi-misinya, pasangan bakal calon presiden (capres) dan bakal calon wakil presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) mengaku mengedepankan soal berdikari ekonomi. Berdikari menekankan pada dua hal yakni berdaulat dan mandiri.

Duet Jokowi-JK sesumbar, Indonesia bisa mandiri dalam hal pangan, dan tidak tergantung pada impor dari negara lain.

“Bangsa atau negara dengan penduduk di atas 100 juta tidak mungkin menjadi berdaulat kalau pangannya bergantung dari impor,” ujar penyusun Visi Misi Capres JKW Rohmin Danuri saat diskusi bertajuk ‘revolusi mental pertanian sebagai landasan kemandirian Ekonomi’ di JKW Center, Jakarta, Minggu (25/5).

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong ini mengutip pernyataan Presiden Soekarno bahwa pertanian dan pangan menjadi faktor penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Implementasinya dengan kemampuan negara menyediakan pangan bagi 240 juta penduduk Indonesia. “Pertanian dan pangan adalah hidup matinya sebuah bangsa,” katanya mengutip pernyataan Soekarno.

Dia menjelaskan, pertanian merupakan sektor penyerap tenaga kerja terbesar dibandingkan sektor industri pengolahan, transportasi dan jasa lainnya. Jika dikembangkan, dia yakin akan membantu pengurangan pengangguran dan kemiskinan.

Rohmin menyebutkan, 39 persen tenaga kerja di Indonesia bekerja di sektor pertanian. Berangkat dari gambaran itu, sudah seharusnya sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak ini lebih tertata dengan baik.

“Bila konsumsi bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri, maka ketergantungan impor itu akan hilang,”ucapnya.

2. Peningkatan Daya Saing Produk Pertanian

Anggota tim penyusun Visi Misi Capres JKW Rohmin Danuri mengkritik soal peningkatan daya saing yang terus disampaikan pemerintah namun tak terlihat realisasinya. Semisal rendahnya produksi pangan karena alat pengolahan pertanian minim dan tidak ramah lingkungan. Masalah lain, kurangnya manajemen profesional yang meliputi kemampuan petani itu sendiri dan proses hulu hingga hilirisasi.

“Terus produk impor juga makin lama makin banyak. Karena setiap Impor 1 kg beras mendapat keuntungan Rp 300. Jadi kalau impor 2 juta ton itu untungnya Rp 800 miliar. Jadi memang lebih baik impor dari pada produksi,” katanya tertawa.

Dia menuturkan, untuk 5 tahun ke depan, program realistis untuk kemandirian pangan adalah peningkatan daya saing produk. Melalui penerapan inovasi dan teknologi yang dilakukan secara komprehensif dan fokus.

“Jadi kalau negara ingin makmur dan bermartabat adalah di daya saing. Itu bisa ditempuh dengan memperkuat daya saing dengan sentuhan teknologi dan inovasi. Dalam 5-10 tahun yang lebih realistis adalah itu,” paparnya.

3. Bank Pertanian

Dalam dokumen visi-misi pasangan bakal calon presiden (capres) dan bakal calon wakil presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK), tersemat rencana atau program pembentukan bank pertanian.

Menurut tim penyusun Visi Misi Jokowi-JK, Rochimn Danuri, ide itu lahir dari perlunya menolong pelaku sektor pertanian, peternakan, nelayan yang bergerak di hulu hingga hilir untuk memajukan usahanya. Penarikan kredit dilakukan saat musim panen.

“Kalau belajar dari negara maju seperti China dan Thailand, memiliki bank pertanian. Karakteristik beda sama barang mati kaya kontruksi. Tarikan kredit saat tidak paceklik tapi saat subur,” kata Rochim, saat diskusi bertajuk ‘revolusi mental pertanian sebagai landasan kemandirian Ekonomi’ di JKW Center, Jakarta, Minggu (25/5).

Rochim menambahkan, bank ini akan memberi pinjaman atau kredit hingga 40 persen. Berbeda dengan pemerintahan SBY-Boediono yang hanya memberikan pinjaman sebesar 10 persen. “Ini minimal 40 persen bukan hanya informal tapi industri hulu hilir pengolahan packaging,” jelasnya.

4. Hapus Beras Miskin

Pasangan bakal calon presiden (capres) Joko Widodo (Jokowi) dan bakal calon wakil presiden (cawapres) Jusuf Kalla (JK) memiliki program penghapusan subsidi pangan beras untuk rakyat miskin (raskin) dan subsidi pupuk. Pertimbangannya, selama ini dua program tersebut tidak berjalan efektif.

“Kita berani untuk menghapuskan raskin,” kata anggota Tim Penyusun Visi Misi Jokowi-JK, Rohmin Danuri dalam acara revolusi mental pertanian di Jokowi Center, Jakarta, Minggu (25/5).

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong ini melihat, program raskin mendidik masyarakat untuk memiliki ketergantungan pada pemerintah.

“Karena itu adalah warisan paling buruk dari pemerintah sekarang yang menjebak rakyat karena tidak ada efeknya,” jelasnya.

5. Hilangkan Subsidi Pupuk

Tim penyusun visi-misi Jokowi-JK melihat, pemberian subsidi pupuk kepada petani diyakini hanya menolong di awal. Padahal proeses pertanian cukup panjang, dan petani sering mengalami kerugian saat akhir proses.

“Seperti kerugian produksi, siapa yang akan membeli hasil produksi. Bagaimana kalau produksi melimpah,” jelas anggota Tim Penyusun Visi Misi Jokowi-JK, Rohmin Danuri dalam acara revolusi mental pertanian di Jokowi Center, Jakarta, Minggu (25/5).

Duet Jokowi-JK bakal menghapus subsidi pupuk. Sebagai pengganti subsidi pupuk adalah subsidi harga. Dalam artian, petani akan mendapat kepastian harga jual sehingga bisa meminimalisir kerugian.

Kemudian, subsidi pupuk digunakan untuk mendidik petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

“Jadi ada kepastian harga jual oleh pemerintah yang tidak merugikan petani, jadi bukan berarti hilang saja. Tapi kita alihkan untuk yang menunjang produktivitas. Sehingga petani pun jadi bergairah,” jelasnya.

Sumber: http://www.merdeka.com/uang/5-gagasan-revolusi-mental-pertanian-ala-jokowi-jk.html

Don't be shellfish, yuk share ...
Email this to someoneDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestPrint this pageShare on RedditShare on StumbleUponShare on TumblrTweet about this on Twitter