Perempuan Penangkal Korupsi

Perempuan Penangkal Korupsi

By  |  0 Comments

Cerewetlah menjadi seorang perempuan. Pesan inilah yang setidaknya disampaikan Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Nita Yudi. Bukan cerewet sembarangan tentu saja, tapi cerewet arti positif yakni dalam mengkritisi atas materi yang dibawa suami ke rumah.

Sebagai istri, lanjut Nita, seorang perempuan jangan segan-segan menanyakan dari mana suami mendapatkan uang untuk membeli mobil atau rumah. “Sebagai istri, perempuan harus bertanya dari mana sumber dana yang digunakan suaminya untuk membeli mobil mewah, rumah megah, atau perhiasan yang mahal-mahal,” kata Nita saat memberikan sambutan pada acara Sosialisasi Antisuap dan Penandatangan Piagam Zona Integritas Pengusaha di kalangan IWAPI di Ruang Auditorium, Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sikap menuntut kepala rumah tangga untuk transparan, lanjut Nita, juga menjadi penting, agar keluarga tidak mengonsumsi harta haram dan yang diperoleh secara tidak sah. Lantas, bagaimana jika sang suami benar-benar tidak bisa membuktikan sah dan halalnya uang atau harta yang dibawa ke rumah? Menurut Nita, istri harus tegas menolak. “Sikap seperti ini merupakan kontribusi nyata perempuan dalam pemberantasan korupsi dan suap,” kata Nita bersemangat.

Dalam tataran yang lebih besar, lanjut Nita, peran perempuan dalam pemberantasan korupsi bisa dilakukan dengan mengimplementasikan sikap jujur. Di IWAPI misalnya, sebagai pengusaha setiap anggota IWAPI dituntut mampu menghindari benturan kepentingan, menjunjung tinggi kepercayaan dan mengedepankan integritas. Dengan menjadi pengusaha yang berintegritas, akan memiliki sifat tanggung jawab serta dapat menjalankan tugas dan kewajibannya secara profesional.

Definisi jujur, menurut Nita yang juga Koordinator Pelaksana Komunitas Indonesia Emas ini juga berarti berani mengakui kesalahan. Maka sebagai pengusaha diminta transparan, konsisten, dan tidak memberi atau menerima suap. “Pengusaha berintegritas tidak akan berbohong, bertindak korup, berkhianat, dan memanipulasi data tidak sesuai dengan fakta,” ujar Nita yang hadir bersama pengurus IWAPI daerah, Kowani, pewakilan Kadin, dan pengurus Komunitas Pengusaha Anti-Suap (KUPAS).

Sementara itu, menanggapi deklarasi zona integritas pengusaha dan pernyataan sikap dalam rangka ulang tahun ke-37 IWAPI, Ketua KPK Abraham Samad menegaskan, komitmen IWAPI menjadi motivasi bagi KPK untuk terus meningkatkan kinerja dalam pemberantasan korupsi. Kerja KPK, menurut Abraham, tidaklah bisa berjalan mulus tanpa dukungan elemen masyarakat termasuk IWAPI, Kowani, dan para pengusaha.

Kehadiran IWAPI, lanjut Abraham, menunjukkan bahwa ada kesadaran mendalam dari para pengusaha untuk tidak terjebak dan tidak terlibat dalam arus suap-menyuap dalam menjalankan usaha sehari-hari. “Kita tahu bahwa yang paling rentan dari permainan suap-menyuap adalah dari lingkungan usaha,” katanya.

Untuk itulah, kesadaran IWAPI dan dunia pengusaha untuk tidak lagi terlibat dalam tindakan unfair competition, menjadi jalan lapang memberangus korupsi. “Kita tahu bahwa roda perekonomian bisa berjalan sehat dan cepat, kalau praktik-praktik kecurangan dan korupsi bisa dikikis.” tegasnya.

Sumber : kpk.go.id

Don't be shellfish, yuk share ...
Email this to someoneDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInPin on PinterestPrint this pageShare on RedditShare on StumbleUponShare on TumblrTweet about this on Twitter